BAB III
MOTIVASI SANTRI DALAM
BERJILBAB
A. Latar
Belakang Wanita Harus Memakai Jilbab
1.
Memakai Jilbab
Sebagai Kewajiban Seorang Muslimah
Penyusun paper ini berkorelasi dengan
beberapa literatur penting yang dijadikan rujukan awal dalam pengembangan
pembahasan serta hubungan dengan fakta di lapangan. Upaya ini dilakukan untuk
mengetahui apakah fakta di lapangan sesuai dengan teori yang sudah ada atau
tidak.
Terkadang muncul suatu pertanyaan, mengapa
saya harus berjilbab? Dari pertanyaan ini maka dapat ditarik sebuah jawaban
bahwa sebab seseorang berjilbab adalah adanya ketentuan syar’i, sebagaimana
perintah-perintah lain yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam. Misalnya perintah shalat, puasa, zakat
dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Ahzab: 59
Terjemahnya: Hai Nabi katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan
istri-istri orang mu’min: hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh
tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena
itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Berdasarkan dalil di atas jelaslah bahwa
jilbab berfungsi untuk menutupi aurat dan menjadikan mereka wanita-wanita
yang suci dan terpelihara. Seorang wanita muslimah dapat dibedakan dengan
melihat pakaian yang ia kenakan, dan jika seorang muslimah berjilbab niscaya
orang-orang fasiq tidak akan berani mengganggu karena itu terdapat isyarat
bahwa kebaikan seorang wanita ketika ia tidak mendapat gangguan lagi dengan
adanya jilbab yang ia kenakan.
Allah juga memberi keringanan kepada
perempuan yang sudah tua dan lemah untuk menanggalkan jilbab karena tidak ada
keinginan untuk menikah lagi, serta tidak ada dosa atas mereka yang
menanggalkan pakaian.
Adapun syarat-syarat jilbab yang umum untuk
digunakan muslimah dan tidak terlepas dari ajaran-ajaran Islam atau tuntutan
agama yaitu:
a.
Hendaknya menutupi badan
b.
Tidak menjadikan jilbab sebagai hiasan
c.
Tidak transparan, dan tidak sempit
d.
Tidak menyemprotkan wewangian lainnya
e.
Tidak menyerupai pakaian kafir
Menurut thabathabai memahami kata jilbab
dalam arti pakaian yang menutupi seluruh badan atau kerudung yang menutupi
kepala dan wajah wanita. Sedangkan Al-Biqai menyebutkan beberapa pendapatnya
yaitu:
a. Baju
yang longgar atau kerudung penutup kepala wanita (menutupi tangan dan kaki)
b. Pakaian
yang menutupi baju dan kerudung dipakainya (menutupi wajah dan leher)
Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa tujuan
yang dikehendaki ayat sebelumnya adalah menjadikan mereka lebih mudah dikenal
sehingga mereka tidak diganggu. Memakai atau meletakkan kerudung terkadang
seorang muslimah sudah memakainya akan tetapi cara memakainya belum mendukung
atau tidak sesuai apa yang dikehendaki ayat di atas (sudah memakai belum
mengulurkannya).
Memakai jilbab adalah kewajiban bagi para
muslimah. Oleh karena itu suatu kewajiban haruslah dilaksanakan, hal ini
(memakai jilbab) dapat diqiyaskan dengan hukum melaksanakan shalat, puasa pada
bulan Ramadhan dan hal-hal yang lainnya. Hal yang harus diluruskan adalah bahwa
itu merupakan kewajiban tetapi masih ada saja yang menganggapnya sepele.
Sedangkan yang sudah memakai seharusnya cara memakainya disesuaikan dengan
tuntunan ajaran-ajaran Islam.
2.
Ajaran Islam
sebagai Sarana Motivasi untuk Memakai Jilbab
Islam merupakan agama yang paling sempurna.
Islam menekankan agar menuntut ilmu sehingga dengan adanya ilmu-ilmu agama yang
ia dapat, pada khususnya merupakan sarana untuk memotivasi dalam melaksanakan
ajaran-ajaran Islam yang ia dapatkan baik dari segi pendidikan formal, non
formal dan informal. Beberapa literatur rujukan yang dijadikan penulis sebagai
sumber data primer antara lain buku yang di tulis oleh Khaeruddin yang berjudul pemikiran dan etika pendidikan
Islam, yang salah satu pembahasannya mendeskripsikan nilai-nilai ajaran
agama Islam terutama dari segi akhlak. Nilai akhlak yang dimaksudkan adalah
akhlak terhadap diri sendiri maupun terhadap sesama manusia (akhlak berpakaian)
yang Islami.
Banyak ahli yang mengemukakan pengertian
motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing namun intinya sama
yakni suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk
aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu memakai jilbab sebagai
seorang wanita.
Ajaran Islam berperan penting untuk
menimbulkan motivasi kepada para wanita pada umumnya dan santri secara khusus.
Kandungan ajaran Islam merupakan langkah awal sebagai pemotivasi karena di
dalamnya dijelaskan bahwa memakai jilbab adalah kewajiban yang kedudukannya
sama dengan perintah-perintah Allah SWT, katakan saja rukun Islam.
Selain itu hal yang perlu diluruskan adalah
adanya perbedaan persepsi tentang jilbab itu sendiri. Namun, hal ini bukanlah
merupakan suatu kendala bahwa dapat mengurangi motivasi para wanita muslimah
untuk memakai jilbab. Hal yang dipertentangkan adalah makna dari jilbab itu
sendiri. Ada argumentasi kelompok yang mengatakan seluruh badan wanita adalah
aurat, akan tetapi hadits tersebut dinilai Hasan oleh At-Tirmidzi karena
perawinya memiliki sedikit kelemahan dalam ingatannya dan gharib yang tidak
diriwayatkan kecuali melalui seorang demi seorang. Hemat penulis, hadits di
atas kalaupun dinilai shahih tidaklah menunjukkan bahwa seluruh tubuh wanita
adalah aurat. Karena kata wanita adalah aurat, dapat berarti bagian-bagian
tertentu dari badan atau gerakan yang rawan menimbulkan rangsangan.
Sebagai mana dalam hadist yang artinya: Dari
Ibn Mas’ud bahwa Nabi SAW bersabda, “wanita adalah aurat, maka apabila ia
keluar (rumah), maka setan tampil membelalakkan matanya dan bermaksud buruk
terhadapnya” (H.R. At- Tirmidzi dan dia menilainya Hasan gharib).
Hadist di atas juga dapat dijadikan alasan
untuk melarang wanita ke luar rumah, paling tinggi dia hanyalah merupakan
peringatan agar wanita menutup auratnya dengan baik dan bersikap sopan sesuai
dengan tututan agama, lebih-lebih apabila dia keluar rumah, agar tidak
merangsang terutama kepada sesama (manusia).
Puluhan hadits yang menunjukkan bahwa banyak
wanita-wanita pada jaman Nabi justru diperbolehkan keluar rumah untuk melakukan
aneka kegiatan positif.
3.
Konsep Islam Tentang
Jilbab
Dikisahkan dalam al-quran bahwa turunnya
ayat jilbab berawal dari peristiwa yang menyangkut diri zainab yaitu ketika
selesai pernikahan antara Rasulullah dan Zainab. Sekelompok tamu-tamu telah
pulang hingga beliaupun bangkit hendak masuk ke bilik keluarnya Zainab, tiba-tiba
ada seseorang yang ingin bertemu Rasulullah dan hendak masuk memberi tahu akan
tetapi Nabi membuat hijab antara orang-orang itu dengan beliau dan saat itulah
turun firman Allah surah Al-Ahzab ayat 53.
Selanjutnya dapat dilihat bagaimana analisa
jilbab dalam persfektif islam bahwa betapa dimuliakannya kaum wanita, islam
senantiasa membentuk dan menjaga nilainilai etik pergaulan. Islam tidak
membenarkan kaum wanita harus dipingit dalam rumah seperti tahan, akan tetapi
dengan jilbab justru untuk melindungi mereka dari bahaya dan kekacauan serta
untu membrantas tingkah laku dalam artian tingkah laku yang tidak pantas.
Satu hal yang paling patal adalah dengan
tiadanya jilbab dalam artian batasan pergaulan dan berkembangnya hubungan bebas
justru telah menyebabkan beruntungnya kekuatan masyarakat.
Jilbab dalam pandangan islam bukanlah
berarti mencabut kepercayaan terhadap mereka akan tetapi suatu upaya dan usaha
pemeliharaan kehormatan mereka agar tidak terjatuh dalam jurang jerendahan dan
kehinaan. Kedudukan kaum wanita dalam islam itu betul-betul terhormat yang
patut bagi insane yang berakal untuk mengangkat topi serta mengagumi keindahan
dan keistimewaan aturan islam ini.
Cukup banyak ayat Al-qur’an
yangmemerintahkan wanita agar senantiasa menjaga kesopanan dalam bertutur cara
berpakaian dan tingkah laku.
Adapun menurut sebagian pukaha aurat
perempuan diluar sholat ketika berhadapan dengan laki-laki asing (yakni yang
bukan mahramnya) samaseperti dalam sholat yakni seluruh tubuhnya kecuali wajah
dan kedua tekapak tangannya, tetapi sebagian yang lainnya seperti Abu Hanifah,
Ats- Tsauri dan Al-muzani (dari kalangan mazhab Syafii) selain wajah dan kedua
tangannya yang boleh terbuka, juga kedua kakinya sampai pergelangan.hal ini
demi tidak menyulitkannya dalam bergerak dan menunaikan tugasnya sehari-hari.
Menurut ibnu Rusyd dalam bukunya Bidayat
Al-Mujtahid I / 83, mayoritas ulama menyatakan bahwa aurat perempuan adalah
seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua tangannya(sampai pergelangan). Tapi
Abu Hanifah berpendapat bahwa kaki perempuan sampai pergelangannya termasuk
aurat. sebaliknya Aha\nad Bin Hambal berpendapat bahwa seluruh tubuh wanita
adalah aurat.semua ini perbedaan dalam memahami firman Allah SWT:
…dan janganlah mereka (kaum wanita yang beriman)
menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. (QS,An-nur:31).
Sheikh Yusuf Qardhawi, ulama asal
Mesir yang diakui kepakarannya dalam bidang hukum Islam, menegaskan wajibnya
berjilbab bagi wanita Muslimah hal ini antara lain berdasarkan pada pengertian berjilbab
di sini adalah menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan. Menurut
Qardhawi wajibnya wanita Muslimah berjilbab adalah ijmak—konsensus ulama dari
berbagai bidang keahlian (Tafsir, Hadits, fiqh, tasawuf) dan kurun waktu dari
dulu sampai sekarang.
Berdasarkan sebuah Hadits shahih
riwayat Bukhari dan Muslim, Islam mengandung tiga unsur pokok yang harus
dimiliki dan terus dikembangkan oleh seorang Muslim yaitu Iman, Islam (syariah)
dan ihsan.
Pertama, Iman. Iman atau keyakinan kepada Allah yang Tunggal dan
kerasulan Muhammad, sebagai Nabi yang terakhir pembawa risalah Islam, menjadi
tulang punggung (backbone) dari ajaran Islam. Tanpanya, seorang tidak lagi bisa
disebut Muslim. Dalam Hadits tersebut ada empat lagi keimanan yang mesti
diyakini yakni iman pada Al Quran, Malaikat, Hari Akhir dan ketentuan Allah
(qadha dan qadar). Iman bertempat di hati.
Kedua, Syariah. Sebagaimana dikatakan Nurcholis Madjid dalam
Islam dan Peradaban ketaatan pada syariah menjadi konsekuensi logis dari
keimanan kita pada Allah dan Rasulnya. Keimanan tanpa dibarengi dengan ketaatan
pada perintah Allah yang kita imani adalah keimanan yang semu.
Syariah mengandung lima unsur
pokok yaitu membaca syahadat, shalat lima waktu, zakat, haji bagi yang mampu
dan puasa di bulan Ramadhan. Ketaatan pada kelima unsur syariah di atas
merupakan bukti minimal dari keislaman kita. Ketaatan seorang wanita Muslimah
untuk berjilbab juga menjadi bagian dari ketaatan pada syariah ini.
Ketiga, Ihsan. Ihsan disebut juga dengan akhlaqul karimah atau
budi pekeri yang luhur. Ia disebut juga dengan syariah universal karena
nilai-nilai yang ada di dalamnya diakui, dianut dan dipraktikkan tidak hanya
oleh Muslim tapi juga oleh non Muslim di seluruh dunia. Ihsan mendapatkan
penekanan pada sikap dan perbuatan yang bukan hanya bermanfaat bagi diri
sendiri tapi juga harus mengandung manfaat bagi orang banyak. Selain itu muhsin
(seorang yang berperilaku ihsan) tidak akan pernah terpikir untuk melakukan
sesuatu yang merugikan umat manusia.
Seorang Muslimah ideal adalah
mereka yang memiliki ketiga unsur di atas: beriman, bersyariah dan berihsan.
Pada kenyataannya menjadi muslimah ideal adalah hal yang sulit. Dan itu semua
manusiawi. Selagi hidup dijadikan sebagai proses pembelajaran terus menerus
untuk memperbaiki level keimanan, kesyariahan dan keihsanan, maka ketidaksempurnaan
kita akan dimengerti.
Yang menjadi masalah adalah
ketika kita berusaha mencari pembenaran (justifikasi) dari kekurangan kita.
Seorang Muslimah berjilbab dan yang tidak berjilbab hendaknya terus introspeksi
diri melihat kekurangan diri dan berusaha untuk belajar. Manusia memang tidak
sempurna. Tapi lebih tidak sempurna lagi kalau kita tidak mau introspeksi dan
selalu menyalahkan. Belajar dari siapapun yang memiliki kelebihan adalah
perintah agama yang harus kita lakukan sampai akhir hayat sebagai proses menjadi
seorang Muslimah ideal.
B. Keistimewaan
Memakai Jilbab
Banyak orang beranggapan orang yang memakai jilbab/kerudung akan mengurangi
nilai kecantikannya. Karena sebagian keindahannya tertutup oleh jilbab. Menurut
Blog Teristimewa itu sama saja, apabila orang yang memakai jilbab ikhlas
memakainya, dia juga akan terlihat cantik, bahkan lebih cantik daripada tidak
memakai jilbab. Karena Berkerudung Itu Cantik. Bahkan wanita berjilbab juga mempunyai
keistimewaan tersendiri diantaranya:
1. Lebih
Dihormati
Wanita yang berjilbab, di muka umum akan diperlakukan lebih terhormat
dibanding wanita yang tidak berjilbab. Jilbabnya seakan-akan sebagai simbol
ketaqwaan ia terhadap Allah SWT.
2.
Motivator yang Baik
Seorang laki-laki yang ingin menjadi pendamping hidupnya, pasti mempunyai
keinginan untuk melebihi istrinya dalam hal ketaqwaan. Sehingga wanita yang
berjilbab bisa memotivasi laki-laki untuk menjadi lebih baik.
3. Mempunyai
Harga Diri Lebih Tinggi
Dengan memakai jilbab, seorang wanita akan terjaga tutur kata dan
perbuatannya. Sehingga akan terlihat lebih cantik dan anggun. Kecantikan itulah
yang membuat wanita itu mempunyai harga diri yang lebih tinggi. Kecantika fisik
memang bisa dilihat dengan mata.Tapi kecantikan hati tidak bisa dilihat dengan
mata biasa tapi bisa dirasakan.
4. Calon Ibu
yang Baik
Berjilbab memang sebuah pilihan. Tapi menjadi seorang Ibu itu adalah Takdir
setiap wanita. Jika seseorang bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri
dengan berjilbab. Maka saat ia dikaruniai seorang anak, maka anak itu juga akan
mempunyai motivasi dan dasar yang baik dari Ibunya.
5. Cantik Luar
Dalam
Wanita berjilbab sudah terlihat kehormatan dan sikapnya. Mereka terlihat
lembut dan anggun. Membuat mereka tampak Luar Biasa. Mereka bagai wanita
dambaan laki-laki.
Sedikit dari Teristimewa. Keistimewaan Wanita Berjilbab atau
Berkerudung. Tapi tetap diingat. Semua tidak bisa dinilai dari FISIKnya saja.
Jaman sekarang, orang bisa saja menggunakan Jilbab hanya sebagai kedok. Jadi,
Semua harus dilihat dengan HATI.
C. Kendala
Wanita Enggan Memakai Jilbab
Banyak
alasan kenapa wanita enggan berjilbab. Padahal banyak manfaatnya yang bisa kita
petik pada saat kita berjilbab atau kita mengenakan jilbab. Simak dibawah ini :
1.
Jilbab tidak menarik.
Jawabnya seorang
wanita muslimah harus sudi menerima kebenaran agama
Islam, dan tidak mempermasalahkan senang atau tidak senang. Sebab rasa
senangnya itu diukur dengan barometer hawa nafsu yang
menguasai dirinya.
2.
Takut durhaka kepada orang
tuanya yang melarangnya berpakaian jilbab.
Jawabnya adalah
Rasulullah SAW telah mengatakan agar tidak mematuhi seorang makhluk dalam
durhaka kepada-Nya.
3.
Tidak bisa membeli pakaian
yang banyak memerlukan kain.
Jawabannya, orang
yang mengatakan alasan seperti itu adalah karena (pertama) ia benar-benar
sangat miskin sehingga tidak mampu membeli pakaian Islami. Atau
(kedua) karena dia cuma alasan saja, sebab ia lebih menyukai pakaian yang bugil
sehingga tampak lekuk tubuhnya atau paha mulusnya bisa kelihatan orang.
4.
Karena merasa gerah dan
panas.
Jawabannya, wanita muslimah di Arab yang
udaranya lebih panas saja mampu mengenakan pakaian Islami, mengapa di negara lainnya
tidak? Dan orang yang merasa gerah dan panas mengenakan pakaian Islami, mereka tidak menyadari tentang
panasnya api neraka bagi orang yang membuka aurat.
Syetan telah
menggelincirkan, sehingga mereka terasa bebas dari panasnya dunia, tetapi
mengantarkannya kepada panas api neraka.
5.
Takut tidak istiqamah.
Mereka melihat contoh
wanita muslimah yang kurang baik ‘Buat apa mengenakan
jilbab sementara, Cuma pertama saja rajin, nanti juga dilepas’. Jawabannya
adalah mereka mengambil sample (contoh)
yang tidak cocok, bukan wanita yang ideal (yang istiqamah) menjalankannya. Ia
mengatakan hanya untuk menyelamatkan dirinya. Dan ia tidak mau mengenakan
jilbab karena takut tidak istiqamah. Kalau saja semua orang berfikir demikian,
tentunya mereka akan meninggalkan agama secara keseluruhan. Orang tidak akan
shalat sama sekali karena takut tidak istiqamah, begitu pula puasa dan ibadah
lainnya.
6.
Takut tidak
"laku", jadi selama ia belum menikah, maka ia tidak mengenakan
jilbab.
Jawabannya, adalah
ucapan itu sebenarnya bukan hal yang sebenarnya. Justru berakibat buruk pada
dirinya sendiri. Sesungguhnya pernikahan adalah nikmat dari Allah yang
diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki. Sebagian besar orang sudah
meyakini bahwa jodoh di tangan Tuhan. Betapa banyak gadis yang berjlbab dan
menutup aurat dalam berbusana tetapi lebih cepat mendapatkan jodoh dibandingkan
mereka yang berpakaian seksi. Karena wanita yang menyukai pakaian seksi akan
dijadikan permainan bagi laki-laki iseng. Gadis-gadis berpakaian seksi
dipandang sebagai gadis murahan. Sesungguhnya suami-suami yang menyukai
wanita-wanita yang berpakaian ‘berani’, setengah bugil atau beneran, membuka
aurat dan bermaksiat kepada Allah adalah bukan tipe suami yang baik, yang
shalih dan berjiwa besar. Ia tidak punya rasa cemburu sama sekali terhadap
larangan-larangan Allah dan tidak dapat memberikan pertolongan kepada isterinya
kelak. Jadi jika wanita yang menyukai pakaian seksi atau melepaskan jilbab
dengan tujuan mendapatkan jodoh yang baik, maka hal itu sungguh merupakan suatu
kebodohan.
7.
Menampakkan anugerah tubuh
yang indah atau ingin menghargai kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.
Jawabnya menghargai
atau bersyukur itu dengan porsi yang benar. Bersyukur itu dengan mengahrgai
perintah-Nya, yakni menjaga aurat, bukan dengan mengobralnya.
8.
Belum mendapat hidayah,
jilbab itu ibadah.
Jika Allah memberi hidayah, pasti kami akan
mengenakannya.
Jawabnya, Allah
menciptakan segala sesuatu itu ada sebab-sebabnya. Misalnya orang yang sakit
jika ingin sembuh hendaknya menempuh sebab-sebab bagi kesembuhannya.
Adapun sebab yang
harus ditempuh adalah berikhtiar dan berobat. Sebab orang kenyang karena makan,
dsb. Maka demikian pula orang yang ingin mendapatkan hidayah itu harus menempuh sebab-sebab
datangnya hidayah yakni dengan mematuhi perintah-Nya
mengenakan jilbab.
9.
Belum waktunya.
Sebagian ada yang
berkata bahwa mengenakan jilbab itu harus tepat waktunya, misalnya karena masih
anak-anak atau masih remaja. Ada yang akan mengenakannya jika sudah tua. Atau jika
sudah menunaikan ibadah haji.
Jawabnya adalah
alasan mengulur-ulur waktu itu hanyalah sebagai sekedar dalil pembenaran saja.
Itu sama artinya dengan orang yang menunda-nunda shalat, menunggu sampai ia
berusia tua. Apakah kita tahu kapan kita akan meninggal dunia? Sedangkan mati itu tidak mengenal usia, tua maupun
muda.
10. Tidak mau dianggap sebagai orang yang mengikuti golongan
tertentu.
Jawabannya, bahwa
anggapan ini karena dangkalnya pemahaman terhadap Islam atau karena dibuat-buat
untuk menutupi diri agar tidak dituduh melanggar syari’at. Sesungguhnya di
dalam Islam itu hanya ada dua golongan, yaitu golongan Hizbullah, golongan yang
senantiasa menaati perintah Allah dan golongan Hizbus Syaithan, yakni golongan
yang melanggar perintah Allah.
Ada beberapa faktor
penyebab seorang wanita tidak memakai jilbab diantaranya:
a.
Minimnya pengetahuan tentang islam atau
jilbab
b.
Karena ikut pada tren yang berlaku
c.
Pengaruh teman
d.
Faktor lingkungan
e.
Belum terbiasa
Adapun beberapa hal
yang bisa mencegah hal yang telah disebutkan di atas ialah :
a.
Beri pengarahan kepada para wanita yang
tidak berjilb, agar mereka memakainya dengan rasa bangga
b.
Tanamkan berjilbab kepada anak perempuan
sejak kecil
c.
Memberi motivasi kepada wanita yang
tidak berjilbab, supaya berjilbab
d.
Memberitahu kepada mereka tentang
beratnya siksa kepada wanita yang tidak berjilbab, seperti yang pernah
disabdakan nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhori.
D. Hikmah
Dibalik Memakai Jilbab
Tidak
sedikit wanita islam yang tidak mengetahui seberapa penting menggunakan jilbab.
Coba perhatikan di sekitar kita. Lebih banyak wanita yang tidak berjilbab
daripada yang berjilbab. Kenapa bisa terjadi hal demikian? Banyak alasan yang
mereka ungkapkan. Ada yang beralasan berjilbab membuat gerah sehingga tidak
tahan memakainya, ada yang beralasan berjilbab tidak nge-trend sehingga
dianggap kurang gaul, ada juga yang beralasan tidak memungkinkan untuk
berjilbab karena tuntutan profesi (adanya larangan berjilbab di tempat kerja),
dan masih banyak lagi alasan lainnya. Lantas, sebenarnya seberapa penting
berjilbab bagi kaum wanita? Coba perhatikan terjemahan ayat berikut ini:
“Katakanlah
kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau
ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau
putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka
memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung.” (QS. An-Nur : 31)
Terjemahannya:“Hai
Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab : 59)
Dari
ayat tersebut dapat kita ketahui berjilbab merupakan perintah Allah yang wajib
dilaksanakan oleh seorang muslimah. “Jilbab begitu penting bagi kami para
wanita. Lebih banyak wanita yang berada di neraka dibanding pria, hal ini
dikarenakan mereka tidak berjilbab, tidak berbakti kepada suami, dan lain-lain.
Selain itu, berjilbab juga dapat menyelamatkan wanita dari berbagai hal negatif
yang banyak terjadi di dunia ini” dan “Terlihat sehelai saja rambut dengan
disengaja sudah menimbulkan dosa, apalagi bagi yang tidak berjilbab dan yang
tidak menutup seluruh auratnya. Laki-laki akan lebih menghormati wanita yang
berjilbab dan mereka tidak akan berani mengganggu”.
Keuntungan lain
wanita berjilbab diantara nya :
1. Rambut
Muslimah yang berjilbab terlindung dari sengatan panas matahari dan terlindung
dari debu serta polusi, sehingga ketika jilbabnya dibuka, rambutnya tampak
selalu bersinar. Rambut indahnya hanya diperlihatkan untuk orang-orang yang
berhak melihatnya.
2. Terjaga dari
pandangan pria nakal. Muslimah yang berjilbab tidak mengumbar tubuhnya, kecuali
muka dan telapak tangan. Oleh karena itu, pria pun terbatas memandangnya.
3. Pria segan
menggoda apalagi melecehkan. Biasanya, pria segan mendekati apalagi menggoda
wanita berjilbab, kecuali kalau peluang itu diciptakan oleh wanita itu sendiri.
4. Termotivasi
untuk terus menuntut ilmu dan mengamalkannya. Muslimah yang berjilbab merasa
dirinya menjadi alat ukur kebaikan dan kesuksesan. Tuntutan ini sangat bagus
karena memacu dirinya untuk senantiasa berlomba meraih prestasi, kebaikan, dan
sekuat mungkin menghindari kesalahan-kesalahan yang dapat mencemarkan nama baik
Islam oleh perbuatan dosa dan tercela.
5. Terjaga
kehormatannya. Wanita berjilbab akan selalu menjaga kehormatannya seiring
dengan ilmu yang dimilikinya karena mereka mengetahui dan dapat membedakan
perilaku yang harus dilakukan dengan perilaku yang harus dihindari. Wanita
berjilbab dan berilmu merasa selalu diawasi Allah dari segala kemaksiatan.
Memakai jilbab ini tidak serta merta memakai penutup
kepala saja tetapi bagian tubuh yang lain harus di tutup juga dengan memakai
busana muslim yang rapi, agak longgar, dan sopan
Menurut saya pribadi, Jilbab adalah piagam kemenangan
gemilang, kemenangan terbesar bagi seorang perempuan islam atas dirinya, atas
imannya , dan atas DUNIA !!
Berjilbab
juga ternyata memiliki hikmah tersendiri bagi wanita yang mampu menjalankannya
dengan baik dan mendapatkan berkah dari Allah. Nah,,, untuk para wanita, ada
baiknya mulailah untuk selalu memakai jilbab dari sekarang. Bukankah berjilbab
adalah suatu kewajiban yang harus dijalani oleh seorang muslimah? Bukankah
hikmah yang akan dirasakan nanti untuk diri sendiri? Jika sudah tahu, kenapa
tidak memulainya dari sekarang? Cobalah untuk menjadi pribadi yang benar-benar
beriman di hadapan Allah SWT.
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan
penjelasan yang telah dipaparkan, maka dapar ditarik kesimpulan sebagai berikut
:
1.
Yang melatar belakangi wanita harus memakai jilbab adalah
sebagaimana yg telah di sebutkan dalam al-Qur’an salah satunya surat an-Nuur
ayat 31, bahwasannya Allah menyuruh kepada kaum hama untuk menutupi auratnya
hendaklah mereka menahan sebagian
pandangan mereka dan
memelihara kemaluan mereka dan
janganlah mereka menampakan
hiasan mereka kecuali yang
nampak darinya dan
hendaklah mereka menutupkan
kerudung mereka ke dada
mereka, dan janganlah
mereka menampakkan perhiasan mereka,
kecuali kepada suami
mereka, atau ayah
mereka atau ayah suami
mereka, atau putera-putera
mereka, atau putera-putera
saudara laki-laki mereka,
atau putera-putera saudara perempuan mereka,
atau wanita-wanita mereka,
atau budak-budak yang mereka
miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki
yang tidak mempunyai keinginan,
atau anak-anak yang
belum mengerti aurat wanita,
dan janganlah mereka
menghentakkan kaki mereka
agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertaubatlah kamu sekalian kepada
Allah.
2.
Adapun keistimewaan memakai jilbab bagi
kaum hawa adalah lebih dihormati, menjadi monivator yang baik, mempunyai harga
diri yang tinggi, calon ibu yang baik, dan cantik luar dalam.
3.
Kendala-kendala kenapa wanita enggan
memakai jilbab adalah minimnya
pengetahuan tentang islam atau jilbab, karena ikut pada tren yang berlaku, pengaruh
teman, faktor lingkungan dan belum terbiasa.
4.
Sedangkan hikmah yang dapat diambil dibalik
memakai jilbab adalah Rambut Muslimah yang berjilbab terlindung dari
sengatan panas matahari dan terlindung dari debu serta polusi, sehingga ketika
jilbabnya dibuka, rambutnya tampak selalu bersinar. Rambut indahnya hanya
diperlihatkan untuk orang-orang yang berhak melihatnya, Terjaga dari pandangan
pria nakal. Muslimah yang berjilbab tidak mengumbar tubuhnya, kecuali muka dan
telapak tangan. Oleh karena itu, pria pun terbatas memandangnya, Pria segan
menggoda apalagi melecehkan. Biasanya, pria segan mendekati apalagi menggoda
wanita berjilbab, kecuali kalau peluang itu diciptakan oleh wanita itu sendiri,
Termotivasi untuk terus menuntut ilmu dan mengamalkannya. Muslimah yang
berjilbab merasa dirinya menjadi alat ukur kebaikan dan kesuksesan. Tuntutan
ini sangat bagus karena memacu dirinya untuk senantiasa berlomba meraih
prestasi, kebaikan, dan sekuat mungkin menghindari kesalahan-kesalahan yang
dapat mencemarkan nama baik Islam oleh perbuatan dosa dan tercela, dan Terjaga
kehormatannya. Wanita berjilbab akan selalu menjaga kehormatannya seiring
dengan ilmu yang dimilikinya karena mereka mengetahui dan dapat membedakan
perilaku yang harus dilakukan dengan perilaku yang harus dihindari. Wanita
berjilbab dan berilmu merasa selalu diawasi Allah dari segala kemaksiatan.
DAFTAR PUSTAKA
A.
Buku-buku
As’ad, Moh,
1998. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty.
Bilaly,
Abdul Hamid, 2000, Apa Yang Menghalangi Seorang Wanita Berjilbab,
Jakarta:
Yayasan
Al-Sofwa, Cet. III.
Bilaly,
Abdul Hamid, 2006, Salah Paham Masalah Jilbab, Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar,
Cet.
V.
Departemen
Agama RI, 1989, Al-Qur’an dan
Terjemahannya, (Semarang: Toha Putera)
Fahruddin,
Fuad Mohd, 1991, Aurat dan Jilbab Dalam Pandangan Mata Islam, Jakarta:
Pedoman
Ilmu Jaya, Cet. II
Muh. Alwi Almaliki Adabul
Islami Finizhamil diterjemahkan
oleh Adnan Kohar dengan judul Etika
Islam Dalam Berumah Tangga (Cet.
I; Surabaya) hal. 167
Muh. Ibn Ismail Al-Muqaddam, 2006, Jilbab itu Cahayamu….,
(Cet. I; Jakarta: Pustaka at-Tibyan), hal. 154.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar