Sabtu, 14 Desember 2013

Motivasi Wanita dalam Berjilbab



BAB III
MOTIVASI SANTRI DALAM BERJILBAB

A.      Latar Belakang  Wanita Harus Memakai Jilbab
1.      Memakai Jilbab Sebagai Kewajiban Seorang Muslimah
Penyusun paper ini berkorelasi dengan beberapa literatur penting yang dijadikan rujukan awal dalam pengembangan pembahasan serta hubungan dengan fakta di lapangan. Upaya ini dilakukan untuk mengetahui apakah fakta di lapangan sesuai dengan teori yang sudah ada atau tidak.
Terkadang muncul suatu pertanyaan, mengapa saya harus berjilbab? Dari pertanyaan ini maka dapat ditarik sebuah jawaban bahwa sebab seseorang berjilbab adalah adanya ketentuan syar’i, sebagaimana perintah-perintah lain yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam. Misalnya perintah shalat, puasa, zakat dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Ahzab: 59
Terjemahnya: Hai Nabi katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Berdasarkan dalil di atas jelaslah bahwa jilbab berfungsi untuk  menutupi aurat dan menjadikan mereka wanita-wanita yang suci dan terpelihara. Seorang wanita muslimah dapat dibedakan dengan melihat pakaian yang ia kenakan, dan jika seorang muslimah berjilbab niscaya orang-orang fasiq tidak akan berani mengganggu karena itu terdapat isyarat bahwa kebaikan seorang wanita ketika ia tidak mendapat gangguan lagi dengan adanya jilbab yang ia kenakan.
Allah juga memberi keringanan kepada perempuan yang sudah tua dan lemah untuk menanggalkan jilbab karena tidak ada keinginan untuk menikah lagi, serta tidak ada dosa atas mereka yang menanggalkan pakaian.
Adapun syarat-syarat jilbab yang umum untuk digunakan muslimah dan tidak terlepas dari ajaran-ajaran Islam atau tuntutan agama yaitu:
a.       Hendaknya menutupi badan
b.      Tidak menjadikan jilbab sebagai hiasan
c.       Tidak transparan, dan tidak sempit
d.      Tidak menyemprotkan wewangian lainnya
e.       Tidak menyerupai pakaian kafir
Menurut thabathabai memahami kata jilbab dalam arti pakaian yang menutupi seluruh badan atau kerudung yang menutupi kepala dan wajah wanita. Sedangkan Al-Biqai menyebutkan beberapa pendapatnya yaitu:
a.       Baju yang longgar atau kerudung penutup kepala wanita (menutupi tangan dan kaki)
b.      Pakaian yang menutupi baju dan kerudung dipakainya (menutupi wajah dan leher)
Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa tujuan yang dikehendaki ayat sebelumnya adalah menjadikan mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu. Memakai atau meletakkan kerudung terkadang seorang muslimah sudah memakainya akan tetapi cara memakainya belum mendukung atau tidak sesuai apa yang dikehendaki ayat di atas (sudah memakai belum mengulurkannya).
Memakai jilbab adalah kewajiban bagi para muslimah. Oleh karena itu suatu kewajiban haruslah dilaksanakan, hal ini (memakai jilbab) dapat diqiyaskan dengan hukum melaksanakan shalat, puasa pada bulan Ramadhan dan hal-hal yang lainnya. Hal yang harus diluruskan adalah bahwa itu merupakan kewajiban tetapi masih ada saja yang menganggapnya sepele. Sedangkan yang sudah memakai seharusnya cara memakainya disesuaikan dengan tuntunan ajaran-ajaran Islam.

2.      Ajaran Islam sebagai Sarana Motivasi untuk Memakai Jilbab
Islam merupakan agama yang paling sempurna. Islam menekankan agar menuntut ilmu sehingga dengan adanya ilmu-ilmu agama yang ia dapat, pada khususnya merupakan sarana untuk memotivasi dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang ia dapatkan baik dari segi pendidikan formal, non formal dan informal. Beberapa literatur rujukan yang dijadikan penulis sebagai sumber data primer antara lain buku yang di tulis oleh Khaeruddin yang berjudul pemikiran dan etika pendidikan Islam, yang salah satu pembahasannya mendeskripsikan nilai-nilai ajaran agama Islam terutama dari segi akhlak. Nilai akhlak yang dimaksudkan adalah akhlak terhadap diri sendiri maupun terhadap sesama manusia (akhlak berpakaian) yang Islami.
Banyak ahli yang mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing namun intinya sama yakni suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu memakai jilbab sebagai seorang wanita.
Ajaran Islam berperan penting untuk menimbulkan motivasi kepada para wanita pada umumnya dan santri secara khusus. Kandungan ajaran Islam merupakan langkah awal sebagai pemotivasi karena di dalamnya dijelaskan bahwa memakai jilbab adalah kewajiban yang kedudukannya sama dengan perintah-perintah Allah SWT, katakan saja rukun Islam.
Selain itu hal yang perlu diluruskan adalah adanya perbedaan persepsi tentang jilbab itu sendiri. Namun, hal ini bukanlah merupakan suatu kendala bahwa dapat mengurangi motivasi para wanita muslimah untuk memakai jilbab. Hal yang dipertentangkan adalah makna dari jilbab itu sendiri. Ada argumentasi kelompok yang mengatakan seluruh badan wanita adalah aurat, akan tetapi hadits tersebut dinilai Hasan oleh At-Tirmidzi karena perawinya memiliki sedikit kelemahan dalam ingatannya dan gharib yang tidak diriwayatkan kecuali melalui seorang demi seorang. Hemat penulis, hadits di atas kalaupun dinilai shahih tidaklah menunjukkan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat. Karena kata wanita adalah aurat, dapat berarti bagian-bagian tertentu dari badan atau gerakan yang rawan menimbulkan rangsangan.
Sebagai mana dalam hadist yang artinya: Dari Ibn Mas’ud bahwa Nabi SAW bersabda, “wanita adalah aurat, maka apabila ia keluar (rumah), maka setan tampil membelalakkan matanya dan bermaksud buruk terhadapnya” (H.R. At- Tirmidzi dan dia menilainya Hasan gharib).
Hadist di atas juga dapat dijadikan alasan untuk melarang wanita ke luar rumah, paling tinggi dia hanyalah merupakan peringatan agar wanita menutup auratnya dengan baik dan bersikap sopan sesuai dengan tututan agama, lebih-lebih apabila dia keluar rumah, agar tidak merangsang terutama kepada sesama (manusia).
Puluhan hadits yang menunjukkan bahwa banyak wanita-wanita pada jaman Nabi justru diperbolehkan keluar rumah untuk melakukan aneka kegiatan positif.



3.      Konsep Islam Tentang Jilbab
Dikisahkan dalam al-quran bahwa turunnya ayat jilbab berawal dari peristiwa yang menyangkut diri zainab yaitu ketika selesai pernikahan antara Rasulullah dan Zainab. Sekelompok tamu-tamu telah pulang hingga beliaupun bangkit hendak masuk ke bilik  keluarnya Zainab, tiba-tiba ada seseorang yang ingin bertemu Rasulullah dan hendak masuk memberi tahu akan tetapi Nabi membuat hijab antara orang-orang itu dengan beliau dan saat itulah turun firman Allah surah Al-Ahzab ayat 53.
Selanjutnya dapat dilihat bagaimana analisa jilbab dalam persfektif islam bahwa betapa dimuliakannya kaum wanita, islam senantiasa membentuk dan menjaga nilainilai etik pergaulan. Islam tidak membenarkan kaum wanita harus dipingit dalam rumah seperti tahan, akan tetapi dengan jilbab justru untuk melindungi mereka dari bahaya dan kekacauan serta untu membrantas tingkah laku dalam artian tingkah laku yang tidak pantas.
Satu hal yang paling patal adalah dengan tiadanya jilbab dalam artian batasan pergaulan dan berkembangnya hubungan bebas justru telah menyebabkan beruntungnya kekuatan masyarakat.
Jilbab dalam pandangan islam bukanlah berarti mencabut kepercayaan terhadap mereka akan tetapi suatu upaya dan usaha pemeliharaan kehormatan mereka agar tidak terjatuh dalam jurang jerendahan dan kehinaan. Kedudukan kaum wanita dalam islam itu betul-betul terhormat yang patut bagi insane yang berakal untuk mengangkat topi serta mengagumi keindahan dan keistimewaan aturan islam ini.
Cukup banyak ayat Al-qur’an yangmemerintahkan wanita agar senantiasa menjaga kesopanan dalam bertutur cara berpakaian dan tingkah laku.
Adapun menurut sebagian pukaha aurat perempuan diluar sholat ketika berhadapan dengan laki-laki asing (yakni yang bukan mahramnya) samaseperti dalam sholat yakni seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua tekapak tangannya, tetapi sebagian yang lainnya seperti Abu Hanifah, Ats- Tsauri dan Al-muzani (dari kalangan mazhab Syafii) selain wajah dan kedua tangannya yang boleh terbuka, juga kedua kakinya sampai pergelangan.hal ini demi tidak menyulitkannya dalam bergerak dan menunaikan tugasnya sehari-hari.
Menurut ibnu Rusyd dalam bukunya Bidayat Al-Mujtahid I / 83, mayoritas ulama menyatakan bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua tangannya(sampai pergelangan). Tapi Abu Hanifah berpendapat bahwa kaki perempuan sampai pergelangannya termasuk aurat. sebaliknya Aha\nad Bin Hambal berpendapat bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat.semua ini perbedaan dalam memahami firman Allah SWT:
dan janganlah mereka (kaum wanita yang beriman) menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. (QS,An-nur:31).
Sheikh Yusuf Qardhawi, ulama asal Mesir yang diakui kepakarannya dalam bidang hukum Islam, menegaskan wajibnya berjilbab bagi wanita Muslimah hal ini antara lain berdasarkan pada pengertian berjilbab di sini adalah menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan. Menurut Qardhawi wajibnya wanita Muslimah berjilbab adalah ijmak—konsensus ulama dari berbagai bidang keahlian (Tafsir, Hadits, fiqh, tasawuf) dan kurun waktu dari dulu sampai sekarang.
Berdasarkan sebuah Hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, Islam mengandung tiga unsur pokok yang harus dimiliki dan terus dikembangkan oleh seorang Muslim yaitu Iman, Islam (syariah) dan ihsan.
Pertama, Iman. Iman atau keyakinan kepada Allah yang Tunggal dan kerasulan Muhammad, sebagai Nabi yang terakhir pembawa risalah Islam, menjadi tulang punggung (backbone) dari ajaran Islam. Tanpanya, seorang tidak lagi bisa disebut Muslim. Dalam Hadits tersebut ada empat lagi keimanan yang mesti diyakini yakni iman pada Al Quran, Malaikat, Hari Akhir dan ketentuan Allah (qadha dan qadar). Iman bertempat di hati.
Kedua, Syariah. Sebagaimana dikatakan Nurcholis Madjid dalam Islam dan Peradaban ketaatan pada syariah menjadi konsekuensi logis dari keimanan kita pada Allah dan Rasulnya. Keimanan tanpa dibarengi dengan ketaatan pada perintah Allah yang kita imani adalah keimanan yang semu.
Syariah mengandung lima unsur pokok yaitu membaca syahadat, shalat lima waktu, zakat, haji bagi yang mampu dan puasa di bulan Ramadhan. Ketaatan pada kelima unsur syariah di atas merupakan bukti minimal dari keislaman kita. Ketaatan seorang wanita Muslimah untuk berjilbab juga menjadi bagian dari ketaatan pada syariah ini.
Ketiga, Ihsan. Ihsan disebut juga dengan akhlaqul karimah atau budi pekeri yang luhur. Ia disebut juga dengan syariah universal karena nilai-nilai yang ada di dalamnya diakui, dianut dan dipraktikkan tidak hanya oleh Muslim tapi juga oleh non Muslim di seluruh dunia. Ihsan mendapatkan penekanan pada sikap dan perbuatan yang bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga harus mengandung manfaat bagi orang banyak. Selain itu muhsin (seorang yang berperilaku ihsan) tidak akan pernah terpikir untuk melakukan sesuatu yang merugikan umat manusia.
Seorang Muslimah ideal adalah mereka yang memiliki ketiga unsur di atas: beriman, bersyariah dan berihsan. Pada kenyataannya menjadi muslimah ideal adalah hal yang sulit. Dan itu semua manusiawi. Selagi hidup dijadikan sebagai proses pembelajaran terus menerus untuk memperbaiki level keimanan, kesyariahan dan keihsanan, maka ketidaksempurnaan kita akan dimengerti.
Yang menjadi masalah adalah ketika kita berusaha mencari pembenaran (justifikasi) dari kekurangan kita. Seorang Muslimah berjilbab dan yang tidak berjilbab hendaknya terus introspeksi diri melihat kekurangan diri dan berusaha untuk belajar. Manusia memang tidak sempurna. Tapi lebih tidak sempurna lagi kalau kita tidak mau introspeksi dan selalu menyalahkan. Belajar dari siapapun yang memiliki kelebihan adalah perintah agama yang harus kita lakukan sampai akhir hayat sebagai proses menjadi seorang Muslimah ideal.

B.       Keistimewaan Memakai Jilbab
Banyak orang beranggapan orang yang memakai jilbab/kerudung akan mengurangi nilai kecantikannya. Karena sebagian keindahannya tertutup oleh jilbab. Menurut Blog Teristimewa itu sama saja, apabila orang yang memakai jilbab ikhlas memakainya, dia juga akan terlihat cantik, bahkan lebih cantik daripada tidak memakai jilbab. Karena Berkerudung Itu Cantik. Bahkan wanita berjilbab juga mempunyai keistimewaan tersendiri diantaranya: 
1.      Lebih Dihormati
Wanita yang berjilbab, di muka umum akan diperlakukan lebih terhormat dibanding wanita yang tidak berjilbab. Jilbabnya seakan-akan sebagai simbol ketaqwaan ia terhadap Allah SWT.
2.      Motivator yang Baik
Seorang laki-laki yang ingin menjadi pendamping hidupnya, pasti mempunyai keinginan untuk melebihi istrinya dalam hal ketaqwaan. Sehingga wanita yang berjilbab bisa memotivasi laki-laki untuk menjadi lebih baik.
3.      Mempunyai Harga Diri Lebih Tinggi
Dengan memakai jilbab, seorang wanita akan terjaga tutur kata dan perbuatannya. Sehingga akan terlihat lebih cantik dan anggun. Kecantikan itulah yang membuat wanita itu mempunyai harga diri yang lebih tinggi. Kecantika fisik memang bisa dilihat dengan mata.Tapi kecantikan hati tidak bisa dilihat dengan mata biasa tapi bisa dirasakan.
4.      Calon Ibu yang Baik
Berjilbab memang sebuah pilihan. Tapi menjadi seorang Ibu itu adalah Takdir setiap wanita. Jika seseorang bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dengan berjilbab. Maka saat ia dikaruniai seorang anak, maka anak itu juga akan mempunyai motivasi dan dasar yang baik dari Ibunya.
5.      Cantik Luar Dalam
Wanita berjilbab sudah terlihat kehormatan dan sikapnya. Mereka terlihat lembut dan anggun. Membuat mereka tampak Luar Biasa. Mereka bagai wanita dambaan laki-laki.
Sedikit dari Teristimewa. Keistimewaan Wanita Berjilbab atau Berkerudung. Tapi tetap diingat. Semua tidak bisa dinilai dari FISIKnya saja. Jaman sekarang, orang bisa saja menggunakan Jilbab hanya sebagai kedok. Jadi, Semua harus dilihat dengan HATI.

C.      Kendala Wanita Enggan Memakai Jilbab
Banyak alasan kenapa wanita enggan berjilbab. Padahal banyak manfaatnya yang bisa kita petik pada saat kita berjilbab atau kita mengenakan jilbab. Simak dibawah ini :
1.      Jilbab tidak menarik.
Jawabnya seorang wanita muslimah harus sudi menerima kebenaran agama Islam, dan tidak mempermasalahkan senang atau tidak senang. Sebab rasa senangnya itu diukur dengan barometer hawa nafsu yang menguasai dirinya.
2.      Takut durhaka kepada orang tuanya yang melarangnya berpakaian jilbab.
Jawabnya adalah Rasulullah SAW telah mengatakan agar tidak mematuhi seorang makhluk dalam durhaka kepada-Nya.
3.      Tidak bisa membeli pakaian yang banyak memerlukan kain.
Jawabannya, orang yang mengatakan alasan seperti itu adalah karena (pertama) ia benar-benar sangat miskin sehingga tidak mampu membeli pakaian Islami. Atau (kedua) karena dia cuma alasan saja, sebab ia lebih menyukai pakaian yang bugil sehingga tampak lekuk tubuhnya atau paha mulusnya bisa kelihatan orang.
4.      Karena merasa gerah dan panas.
Jawabannya, wanita muslimah di Arab yang udaranya lebih panas saja mampu mengenakan pakaian Islami, mengapa di negara lainnya tidak? Dan orang yang merasa gerah dan panas mengenakan pakaian Islami, mereka tidak menyadari tentang panasnya api neraka bagi orang yang membuka aurat.
Syetan telah menggelincirkan, sehingga mereka terasa bebas dari panasnya dunia, tetapi mengantarkannya kepada panas api neraka.
5.      Takut tidak istiqamah.
Mereka melihat contoh wanita muslimah yang kurang baik ‘Buat apa mengenakan jilbab sementara, Cuma pertama saja rajin, nanti juga dilepas’. Jawabannya adalah mereka mengambil sample (contoh) yang tidak cocok, bukan wanita yang ideal (yang istiqamah) menjalankannya. Ia mengatakan hanya untuk menyelamatkan dirinya. Dan ia tidak mau mengenakan jilbab karena takut tidak istiqamah. Kalau saja semua orang berfikir demikian, tentunya mereka akan meninggalkan agama secara keseluruhan. Orang tidak akan shalat sama sekali karena takut tidak istiqamah, begitu pula puasa dan ibadah lainnya.
6.      Takut tidak "laku", jadi selama ia belum menikah, maka ia tidak mengenakan jilbab.
Jawabannya, adalah ucapan itu sebenarnya bukan hal yang sebenarnya. Justru berakibat buruk pada dirinya sendiri. Sesungguhnya pernikahan adalah nikmat dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki. Sebagian besar orang sudah meyakini bahwa jodoh di tangan Tuhan. Betapa banyak gadis yang berjlbab dan menutup aurat dalam berbusana tetapi lebih cepat mendapatkan jodoh dibandingkan mereka yang berpakaian seksi. Karena wanita yang menyukai pakaian seksi akan dijadikan permainan bagi laki-laki iseng. Gadis-gadis berpakaian seksi dipandang sebagai gadis murahan. Sesungguhnya suami-suami yang menyukai wanita-wanita yang berpakaian ‘berani’, setengah bugil atau beneran, membuka aurat dan bermaksiat kepada Allah adalah bukan tipe suami yang baik, yang shalih dan berjiwa besar. Ia tidak punya rasa cemburu sama sekali terhadap larangan-larangan Allah dan tidak dapat memberikan pertolongan kepada isterinya kelak. Jadi jika wanita yang menyukai pakaian seksi atau melepaskan jilbab dengan tujuan mendapatkan jodoh yang baik, maka hal itu sungguh merupakan suatu kebodohan.
7.      Menampakkan anugerah tubuh yang indah atau ingin menghargai kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.
Jawabnya menghargai atau bersyukur itu dengan porsi yang benar. Bersyukur itu dengan mengahrgai perintah-Nya, yakni menjaga aurat, bukan dengan mengobralnya.
8.      Belum mendapat hidayah, jilbab itu ibadah.
Jika Allah memberi hidayah, pasti kami akan mengenakannya.
Jawabnya, Allah menciptakan segala sesuatu itu ada sebab-sebabnya. Misalnya orang yang sakit jika ingin sembuh hendaknya menempuh sebab-sebab bagi kesembuhannya.
Adapun sebab yang harus ditempuh adalah berikhtiar dan berobat. Sebab orang kenyang karena makan, dsb. Maka demikian pula orang yang ingin mendapatkan hidayah itu harus menempuh sebab-sebab datangnya hidayah yakni dengan mematuhi perintah-Nya mengenakan jilbab.
9.      Belum waktunya.
Sebagian ada yang berkata bahwa mengenakan jilbab itu harus tepat waktunya, misalnya karena masih anak-anak atau masih remaja. Ada yang akan mengenakannya jika sudah tua. Atau jika sudah menunaikan ibadah haji.
Jawabnya adalah alasan mengulur-ulur waktu itu hanyalah sebagai sekedar dalil pembenaran saja. Itu sama artinya dengan orang yang menunda-nunda shalat, menunggu sampai ia berusia tua. Apakah kita tahu kapan kita akan meninggal dunia? Sedangkan mati itu tidak mengenal usia, tua maupun muda.
10.  Tidak mau dianggap sebagai orang yang mengikuti golongan tertentu.
Jawabannya, bahwa anggapan ini karena dangkalnya pemahaman terhadap Islam atau karena dibuat-buat untuk menutupi diri agar tidak dituduh melanggar syari’at. Sesungguhnya di dalam Islam itu hanya ada dua golongan, yaitu golongan Hizbullah, golongan yang senantiasa menaati perintah Allah dan golongan Hizbus Syaithan, yakni golongan yang melanggar perintah Allah.
Ada beberapa faktor penyebab seorang wanita tidak memakai jilbab diantaranya: 
a.       Minimnya pengetahuan tentang islam atau jilbab 
b.      Karena ikut pada tren yang berlaku 
c.       Pengaruh teman 
d.      Faktor lingkungan
e.       Belum terbiasa 
Adapun beberapa hal yang bisa mencegah hal yang telah disebutkan di atas ialah : 
a.       Beri pengarahan kepada para wanita yang tidak berjilb, agar mereka memakainya dengan rasa bangga 
b.      Tanamkan berjilbab kepada anak perempuan sejak kecil 
c.       Memberi motivasi kepada wanita yang tidak berjilbab, supaya berjilbab 
d.      Memberitahu kepada mereka tentang beratnya siksa kepada wanita yang tidak berjilbab, seperti yang pernah disabdakan nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhori.

D.      Hikmah Dibalik Memakai Jilbab
Tidak sedikit wanita islam yang tidak mengetahui seberapa penting menggunakan jilbab. Coba perhatikan di sekitar kita. Lebih banyak wanita yang tidak berjilbab daripada yang berjilbab. Kenapa bisa terjadi hal demikian? Banyak alasan yang mereka ungkapkan. Ada yang beralasan berjilbab membuat gerah sehingga tidak tahan memakainya, ada yang beralasan berjilbab tidak nge-trend sehingga dianggap kurang gaul, ada juga yang beralasan tidak memungkinkan untuk berjilbab karena tuntutan profesi (adanya larangan berjilbab di tempat kerja), dan masih banyak lagi alasan lainnya. Lantas, sebenarnya seberapa penting berjilbab bagi kaum wanita? Coba perhatikan terjemahan ayat berikut ini:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur : 31)

Terjemahannya:“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab : 59)
Dari ayat tersebut dapat kita ketahui berjilbab merupakan perintah Allah yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslimah. “Jilbab begitu penting bagi kami para wanita. Lebih banyak wanita yang berada di neraka dibanding pria, hal ini dikarenakan mereka tidak berjilbab, tidak berbakti kepada suami, dan lain-lain. Selain itu, berjilbab juga dapat menyelamatkan wanita dari berbagai hal negatif yang banyak terjadi di dunia ini” dan “Terlihat sehelai saja rambut dengan disengaja sudah menimbulkan dosa, apalagi bagi yang tidak berjilbab dan yang tidak menutup seluruh auratnya. Laki-laki akan lebih menghormati wanita yang berjilbab dan mereka tidak akan berani mengganggu”.
Keuntungan lain wanita berjilbab diantara nya :
1.      Rambut Muslimah yang berjilbab terlindung dari sengatan panas matahari dan terlindung dari debu serta polusi, sehingga ketika jilbabnya dibuka, rambutnya tampak selalu bersinar. Rambut indahnya hanya diperlihatkan untuk orang-orang yang berhak melihatnya.
2.      Terjaga dari pandangan pria nakal. Muslimah yang berjilbab tidak mengumbar tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan. Oleh karena itu, pria pun terbatas memandangnya.
3.      Pria segan menggoda apalagi melecehkan. Biasanya, pria segan mendekati apalagi menggoda wanita berjilbab, kecuali kalau peluang itu diciptakan oleh wanita itu sendiri.
4.      Termotivasi untuk terus menuntut ilmu dan mengamalkannya. Muslimah yang berjilbab merasa dirinya menjadi alat ukur kebaikan dan kesuksesan. Tuntutan ini sangat bagus karena memacu dirinya untuk senantiasa berlomba meraih prestasi, kebaikan, dan sekuat mungkin menghindari kesalahan-kesalahan yang dapat mencemarkan nama baik Islam oleh perbuatan dosa dan tercela.
5.      Terjaga kehormatannya. Wanita berjilbab akan selalu menjaga kehormatannya seiring dengan ilmu yang dimilikinya karena mereka mengetahui dan dapat membedakan perilaku yang harus dilakukan dengan perilaku yang harus dihindari. Wanita berjilbab dan berilmu merasa selalu diawasi Allah dari segala kemaksiatan.
Memakai jilbab ini tidak serta merta memakai penutup kepala saja tetapi bagian tubuh yang lain harus di tutup juga dengan memakai busana muslim yang rapi, agak longgar, dan sopan
Menurut saya pribadi, Jilbab adalah piagam kemenangan gemilang, kemenangan terbesar bagi seorang perempuan islam atas dirinya, atas imannya , dan atas DUNIA !!
Berjilbab juga ternyata memiliki hikmah tersendiri bagi wanita yang mampu menjalankannya dengan baik dan mendapatkan berkah dari Allah. Nah,,, untuk para wanita, ada baiknya mulailah untuk selalu memakai jilbab dari sekarang. Bukankah berjilbab adalah suatu kewajiban yang harus dijalani oleh seorang muslimah? Bukankah hikmah yang akan dirasakan nanti untuk diri sendiri? Jika sudah tahu, kenapa tidak memulainya dari sekarang? Cobalah untuk menjadi pribadi yang benar-benar beriman di hadapan Allah SWT.




















BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan, maka dapar ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Yang melatar belakangi  wanita harus memakai jilbab adalah sebagaimana yg telah di sebutkan dalam al-Qur’an salah satunya surat an-Nuur ayat 31, bahwasannya Allah menyuruh kepada kaum hama untuk menutupi auratnya hendaklah  mereka menahan  sebagian  pandangan  mereka  dan  memelihara  kemaluan mereka  dan  janganlah  mereka  menampakan  hiasan  mereka  kecuali yang  nampak  darinya  dan  hendaklah  mereka  menutupkan  kerudung mereka  ke  dada  mereka,  dan  janganlah  mereka  menampakkan perhiasan  mereka,  kecuali  kepada  suami  mereka,  atau  ayah  mereka atau  ayah  suami  mereka,  atau  putera-putera  mereka,  atau  putera-putera  saudara  laki-laki  mereka,  atau  putera-putera  saudara perempuan  mereka,  atau  wanita-wanita  mereka,  atau  budak-budak yang  mereka  miliki,  atau  pelayan-pelayan  laki-laki  yang  tidak mempunyai  keinginan,  atau  anak-anak  yang  belum  mengerti  aurat wanita,  dan  janganlah  mereka  menghentakkan  kaki  mereka  agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertaubatlah kamu sekalian  kepada  Allah.
2.      Adapun keistimewaan memakai jilbab bagi kaum hawa adalah lebih dihormati, menjadi monivator yang baik, mempunyai harga diri yang tinggi, calon ibu yang baik, dan cantik luar dalam.
3.      Kendala-kendala kenapa wanita enggan memakai jilbab adalah minimnya pengetahuan tentang islam atau jilbab, karena ikut pada tren yang berlaku, pengaruh teman, faktor lingkungan dan belum terbiasa.
4.      Sedangkan hikmah yang dapat diambil dibalik memakai jilbab adalah Rambut Muslimah yang berjilbab terlindung dari sengatan panas matahari dan terlindung dari debu serta polusi, sehingga ketika jilbabnya dibuka, rambutnya tampak selalu bersinar. Rambut indahnya hanya diperlihatkan untuk orang-orang yang berhak melihatnya, Terjaga dari pandangan pria nakal. Muslimah yang berjilbab tidak mengumbar tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan. Oleh karena itu, pria pun terbatas memandangnya, Pria segan menggoda apalagi melecehkan. Biasanya, pria segan mendekati apalagi menggoda wanita berjilbab, kecuali kalau peluang itu diciptakan oleh wanita itu sendiri, Termotivasi untuk terus menuntut ilmu dan mengamalkannya. Muslimah yang berjilbab merasa dirinya menjadi alat ukur kebaikan dan kesuksesan. Tuntutan ini sangat bagus karena memacu dirinya untuk senantiasa berlomba meraih prestasi, kebaikan, dan sekuat mungkin menghindari kesalahan-kesalahan yang dapat mencemarkan nama baik Islam oleh perbuatan dosa dan tercela, dan Terjaga kehormatannya. Wanita berjilbab akan selalu menjaga kehormatannya seiring dengan ilmu yang dimilikinya karena mereka mengetahui dan dapat membedakan perilaku yang harus dilakukan dengan perilaku yang harus dihindari. Wanita berjilbab dan berilmu merasa selalu diawasi Allah dari segala kemaksiatan.























DAFTAR PUSTAKA

A.      Buku-buku
As’ad, Moh, 1998. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty.
Bilaly, Abdul Hamid, 2000, Apa Yang Menghalangi Seorang Wanita Berjilbab, Jakarta:
Yayasan Al-Sofwa, Cet. III.
Bilaly, Abdul Hamid, 2006, Salah Paham Masalah Jilbab, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,
Cet. V.
Departemen Agama RI, 1989, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putera)
Fahruddin, Fuad Mohd, 1991, Aurat dan Jilbab Dalam Pandangan Mata Islam, Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya, Cet. II
Muh. Alwi Almaliki Adabul Islami Finizhamil diterjemahkan oleh Adnan Kohar dengan judul Etika Islam Dalam Berumah Tangga (Cet. I; Surabaya) hal. 167
Muh. Ibn Ismail Al-Muqaddam, 2006, Jilbab itu Cahayamu…., (Cet. I; Jakarta: Pustaka at-Tibyan),  hal. 154.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar